Dari Sudut Si Sulung (Si Sulung yang Terpenjara oleh Kebimbangan tak Berartinya)

Dari Sudut Si Sulung (Si Sulung yang Terpenjara oleh Kebimbangan tak Berartinya)

 

oleh: Fhirly Gelshi Fahima

Selamat datang di duniaku. Dunia yang sempit, rapuh, bahkan sudah mendekati kehancurannya. Bukan atas inginku hingga semuanya jadi begini. Aku hancur karena cinta pertamaku. Tulisan ini dibuat bukan untuk dibaca. Aku hanya ingin mengutarakan isi hati yang tak bisa aku sampaikan padanya secara langsung. Aku Asha, dan izinkan aku untuk menulis sedikit tentang si Biang Kerok itu. Seseorang yang selama ini orang anggap brengsek dan berani-beraninya menghempas bahagia keluarga kecilku.

 

Perkenalkan, dia adalah Ayahku sendiri.

 

“Papa itu jahat, pelit, dan gak sayang sama anak-anaknya.” Itu adalah kalimat yang kerap kali terucap dari bibir Mama. Bertahun lamanya, pikiranku selalu diselimuti oleh pikiran itu. 

 

Aku sudah menjauhi ayahku sejak usiaku masih 10 tahun. Sejak mereka berdua (orang tuaku) bercerai tentunya. Aku benar-benar membencinya kala itu. Bahkan untuk dipeluk saja aku tak mau. Ia pernah mengajakku keluar untuk jalan-jalan sore, lalu aku menolak dan diam di rumah nenek. Kala itu bukan hanya dunia yang jahat pada ayahku, tapi aku juga. Sedih sekali jika harus mengingat kenangan itu. Sekarang usiaku sudah 16 tahun dan sedikit menyesali tindakanku itu.

 

Papa, jadi kita mau jalan-jalan lagi kapan?

 

Tapi, sebenarnya apa sih yang kuketahui tentang semua ini?

Tidak ada! Aku hanyalah gadis berusia 10 tahun yang tidak mengerti apa-apa.

 

Itu kata mereka.

 

Aku tahu itu, aku memang anak kecil yang masih amat bergantung pada orang tuanya. Tapi pernahkah mereka melihat ke arahku sebentar? Setidaknya, melihatku menangis? Tidak pernah! Aku tidak pernah menangisi nasibku kala itu. Aku tidak pernah diberi kesempatan untuk bersedih pula. Orang rumah dengan tiada hentinya menyuruhku untuk fokus belajar, dan meraih cita-cita.

 

Mereka pikir, aku tidak mengerti apa-apa.

Mereka kira, aku akan percaya saja jika ada yang mengatakan “semua akan baik-baik saja”.

Tapi nyatanya,

Aku memahaminya.

Aku hanya berusaha untuk terlihat tegar saja.

Itu aku, aku yang baru hidup 10 tahun.

 

—

 

Sejak perceraian orang tuaku, aku sudah jarang bertemu dengan cinta pertamaku itu (Papa). Padahal dulu saat usiaku masih 4 tahun, aku sangat dekat dengannya. Kalian tahu? Dulu, setiap hari Sabtu atau Minggu, aku dan Papa sering berkeliling kota menggunakan sepeda motor. Bahkan aku pernah mengajaknya keliling di sore hari padahal ia baru saja sampai rumah. Dengan wajahnya yang terlihat lelah, ia masih mau menerima ajakanku untuk jalan-jalan.

 

Bahagia ternyata sesederhana itu, ya?

 

Hingga suatu hari, bencana datang dan orang tuaku akhirnya memutuskan untuk berpisah. Sejujurnya, aku tidak sedih sama sekali saat itu. Aku sudah lelah dengan pertengkaran mereka, meskipun aku tidak pernah tahu bahwa perceraian akan membawakan efek yang sangat merubah hidupku.

 

Satu tahun… dua tahun… Hidupku terasa biasa saja. Papa dinas di Yogyakarta sedangkan aku menetap di Jakarta bersama ibu dan satu adik laki-lakiku (kandung). Banyak yang terjadi, sampai aku melihat ibuku menikah lagi. Aku masih—dan selalu baik-baik saja saat itu. Tapi ada bagian dari hati kecilku yang menjerit sakit. Pernikahan Mama dan suaminya hanya akan memperbaiki ekonomi keluarga, bukan memperbaiki kondisi mentalku. Bahkan sampai hari itu, hatiku menolak untuk ikhlas. Aku masih ingin bersama Papa.

 

Papa kabarnya gimana ya sekarang? Udah nikah juga, ya? pikirku.

 

Selama bertahun-tahun, aku hanya berkomunikasi dengan papa untuk mengabari soal uang bulanan yang sudah dikirim atau belum. Biasanya, mama akan marah-marah padaku jika uang bulanan yang papa kirim belum masuk ke rekening. Mama selalu protes jika uang bulanan itu tidak akan mencukupi kebutuhanku dan adik. Aku akui, memang benar begitu. Tapi haruskah aku mengetahui segala macam masalah perekonomian keluarga sampai sedetail ini? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dalam situasi seperti ini.

 

—

 

Aku hanyalah anak usia 14 tahun kala itu. Kadang hatiku merasa rindu pada sosok ayah. Sosok lelaki yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang anak perempuan, kini malah menjadi sosok yang paling ku benci dalam hidupku. Aku yakin pasti akan ada laki-laki baik di luar sana yang bisa mengisi kekosonganku. Namun keyakinanku selalu patah. Aku pernah mencoba untuk berkenalan dengan cinta, hingga aku sadar, cinta adalah perihal mengikhlaskan. Cinta itu damai. Selama ini aku hanya mencari bagian dari hidupku yang hilang. Aku tidak pernah benar-benar mencintai mereka. Selayaknya aku yang seperti itu, mereka juga tak segan untuk memainkan perasaanku.

 

Kini usiaku sudah 15 tahun. Aku merasa sudah cukup paham tentang konsep takdir yang Tuhan berikan padaku. “People come and go”, salah satu kalimat keramat yang tak pernah aku percayai  dulu. Tapi setelah apa yang sudah terjadi, aku belajar sendiri bahwa setiap orang pasti ada waktunya masing-masing. Aku sering menangis sekarang, hehe. Bukan karena ‘buaya kemarin sore’ itu kok.

 

Aku jadi sering merindukan Papa..

 

—

 

Bagiku, momen ketika wisuda Tahfidz di sekolah adalah momen yang sangat tak terlupakan. Layaknya wisuda pada umumnya, setiap anak diminta untuk mengajak pendamping/orang tua mereka masing-masing. Tapi saat itu mama sedang sakit, tidak ada yang datang untuk menemaniku. Aku hanya bisa melihat teman-temanku memberikan bunga dan ijazah pada orang tua mereka sedangkan aku duduk dan menyerahkan semua itu pada wali kelasku.

 

“Gak apa-apa, gak perlu nangis… cup, cup, cup,” kata wali kelasku dan langsung memeluk tubuhku waktu itu.

 

Sejak saat itu, pikiranku tentang Mama langsung berubah. Memang benar, saat itu Mama sedang sakit walau tiba-tiba. Tapi aku merasa inilah titik kesendirianku. Di tengah meriahnya suasana wisuda Tahfidz, di situlah hatiku seolah teriris karena melihat banyak temanku yang memiliki keluarga yang lengkap.

 

“Kalau gak sama Mama-nya, mereka bisa ditemani sama Papa-nya. Terus aku sama siapa?” pikirku, lagi dan lagi. Rasanya ingin marah pada takdir, namun… inilah takdir. Aku harus menerimanya.

 

Mungkin bagi mereka, ini sangat biasa. Tapi bagiku, ini luar biasa sakitnya. Di hari yang spesial dan penuh dengan suka cita, malah harus kujalani dengan banjiran air mata. Tapi untungnya, ada temanku—Putri—yang bersama ibunya mau menemaniku dalam sesi foto bersama. Putri dan ibunya mengajakku berfoto, padahal harusnya sesi foto itu dilakukan oleh mereka berdua saja…

 

Aku merasa tidak enak hehe tapi terima kasih, Putri!

 

—

 

Bagiku, mereka berdua (Mama dan Papa) itu sama saja. Mereka juga pasti lebih merasakan sakit lebih dari yang aku rasa. Tetapi jika harus dilihat dari lensaku, aku harus bilang bahwa mereka cukup egois juga. ya.

 

Aku merasa seperti tumbuh sendirian tanpa kasih sayang seorang ayah. Aku berdiri dengan kakiku meraih suatu pencapaian, terkadang bukan untuk diriku sendiri. Tetapi untuk mereka, Mama dan Papa. Aku hanya ingin mereka sekali saja melihat ke arahku. Melihat bagaimana kondisiku. Aku ingin mereka melihat pengorbananku, yang meski sedikit tapi bagiku ini harus diapresiasi. Terkadang aku juga merasa bodoh karena haus akan validasi begini. Seringkali kulihat teman-temanku, mereka semua keren dan patut dikagumi. Mental mereka stabil, pembawaan mereka santai, dan tidak emosian sepertiku.

 

Dan hingga kini, orang tuaku tidak pernah menanyakan ‘kabarku’ 7 tahun ke belakang. Aku terus-menerus mencari letak kedamaianku hingga sekarang. Aku terus berkelana mencari sebab atas apa yang terjadi dengan diriku yang selalu berdamai dengan guncangan-guncangan baru yang kubuat sendiri.

 

Guncangan nilai anjlok, guncangan laki-laki brengsek, dan guncangan-guncangan yang mengganggu lainnya.

 

Hidupku dipenuhi pertanyaan, dan aku harus berdamai secara perlahan. Rasanya ingin sekali berlari meminta sebuah pelukan. Namun ke siapa? Ke mana? Orang tuaku ada di mana?!

 

Mereka hanya sibuk bekerja, mereka sibuk menghidupiku, memang. Hidup ini ada lebih ada kurang, iya aku tau. Tapi bolehkah sekali saja aku berteriak marah? Aku lelah dengan diriku yang sering terlihat lemah. Aku muak dengan keadaanku yang sekarang. Semakin dewasa, aku semakin paham dengan semua hal yang berkaitan dengan mereka. Aku… aku hanya ingin, hidup lebih tenang…

 

Pikiranku berisik, diriku sering terombang-ambing masalah yang kupikirkan sendiri. Mereka kira, pikiranku itu muncul secara sengaja. “Gak usah dipikirin, santai aja,” itu kata mereka semua. Tapi apa? Tidak semudah yang mereka kira! Aku bergelut dengan pikiranku yang penuh, berkali-kali memikirkan kapan waktu-ku untuk sembuh?! Tapi, apakah aku tahu bahwa aku pernah merasakan ‘sakit’ sebelumnya? Aku juga tidak tahu!

 

Ini akibat sering memendam amarah dahulu. Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sering meluapkan emosiku tanpa sadar. Aku juga bingung sebenarnya aku kenapa. Aku sampai pernah dinasehati, “Kak, kalau ada masalah di sekolah jangan marah-marah di rumah ya,” dan setelah itu, aku langsung merasa bersalah… apakah aku seburuk itu tadi?

 

Emosiku terpendam, amarahku memuncak, aku terlalu kejam untuk disebut sebagai seorang wanita biasa. Mungkin, ini juga bagian dari pendewasaan remaja. Tapi lenapa masalahku selalu sama?

 

Keluarga, keluarga, keluarga.

 

—

 

Tanpa sadar,  selain overthinking, aku juga oversharing. Aku tidak tahu cara mengungkapkan perasaanku, dan aku juga seolah tidak punya “rem” untuk mengutarakan ceritaku. Aku sering dianggap bodoh karena hal itu. Aku seperti tidak ada ruang privasi, padahal menurutku itu bukanlah apa-apa. Aku juga bingung yang salah bagian yang mana. Masih banyak sekali yang harus aku pelajari (lagi), sendirian.

 

 

ngapa kayak sedih amat ya ini, bersambung btw hehehehehehe

Baca selengkapnya »
Gadis Kecil dan yang Tersayang

Gadis Kecil dan yang Tersayang

 

Oleh: Chiquita Juliartanti Pepyndra

 

Teruntuk Raka yang tersayang, dan Arra si gadis kecil. Semoga kalian penuh damai dan bahagia.

 

Siapa yang tidak mendambakan kisah romansa yang berkesan dan menarik untuk diceritakan kembali kepada dunia di masa depan?

Balada Insan Muda, dengan sejuta kisahnya.
Tentang cerita yang tidak pernah dimulai untuk diselesaikan. Mereka bilang, kamu harus segera lupa. Jangan menyuruhku melakukan hal yang sudah kulakukan, dan kalian pun kemungkinan tahu hasil akhirnya.

 

Semua yang dipanjatkan kepada-Nya pasti akan diberikan, tanpa diberi tahu kapan waktu yang tepat untuk menerimanya.

Seperti pohon apel, untuk menghasilkan buah yang segar dan manis, tentu saja melewati berbagai rintangan dan tantangan yang harus dihadapi.

 

Karena,

dalam mencari yang terbaik pun, memang tidak didapatkan dengan cara yang mudah dan asyik. Lagipula, hidup memang bukan seperti permainan klasik yang amat menyenangkan seperti di zaman ayah dan bundaku.

Hidup memang penuh tantangan, mau melawannya atau tidak itu adalah pilihan.

 

Orang yang tepat, di waktu yang salah.

Aku rasa itu lah yang terjadi pada mereka berdua, sebelum waktu yang tepat nantinya benar-benar tiba bersamaan dengan jiwa yang tepat pula.

 

Sungguh, Arra benar benar menyadari apa yang telah terjadi.

 

Andai tahu, akhirnya akan seperti ini, Arra tidak akan pernah dengan angkuhnya berkata: "jika lelaki di dunia ini hanya tersisa dia, aku pun belum tentu mau”

Tapi kalian harus tahu, ia berkata seperti itu bukan tanpa alasan.

Aku rasa orang sekitarnya adalah makhluk masa depan, yang seakan tahu jika gadis sepertinya ini akan.. jatuh.. terhadap sosok pria yang tidak pernah ia duga sebelumnya.”

 

Mereka yang selalu mengusulkan satu lelaki untuk gadis kecil yang baru saja merasa patah, Raka namanya.

Tetapi mana peduli, ia sudah tidak percaya lelaki.
“Semua lelaki adalah sama.” pikirnya.
 
Sebab itulah, Arra merasa segala pujian teman-temannya terhadap lelaki itu adalah omong kosong yang hanya mengganggu gendang telinganya.

 

Namun manusia, hati, dan pikirannya memang suka keliru.

 

Tuhan membuktikan kuasa-Nya dengan memberi perwujudan doa pada Bab; lelaki Idaman bagi Arra, si gadis kecil. Tanpa memberi aba-aba sedikitpun, dia lah yang ditunjuk tuhan. Siapa sangka jika itu Raka, yang akan selalu menjadi tokoh utama.


Nikmatnya menjilat ludah sendiri.

 

“Bahagia, persis seperti lagu Penjaga Hati-Nadhif Basalamah. Bersamanya semua terasa indah. Bagaimana tidak, lelucon andalan Raka adalah alasan tawaku hadir di sepanjang hari. Aku merasa telah mampu mempercayai seseorang lagi. Aku merasa lelaki baik ternyata masih diciptakan oleh tuhan.”


“Senyuman itu selalu dipancarkan saat aku hadir di depan matanya, aku suka melihatnya. Tatapannya dalam, senyumnya megah.”

 

“Aku berharap hanya musim semi yang senantiasa ada di hati, yang akan selalu menjadi indah seperti kebun bunga tulip dengan sejuta warnanya. Bunga kesukaanku, yang negeri Belanda saja menyayanginya.”

 

Namun, kisah mereka tidak lama atau mungkin saja belum diizinkan untuk lebih lama.

 

“Ternyata memang benar setiap orang ada masanya. Tapi kenapa harus dia, aku tidak tahu.”

 

 

“Jarak ini tidak dibangun atas dasar rasa benci atau rasa sakit, aku tidak merasakan itu sama sekali. Dia sungguh disayang oleh tuhan, dan aku diberi kesempatan untuk menjadi perantara kasih-Nya.”

 

Dengan penuh yakin mereka berjanji akan menjadi teman setelah apapun yang telah terjadi. Namun kenyataannya tidak ada pertemanan yang seakan tidak saling mengenal, bahkan ketika mata saling bertemu. Mereka gegabah, mereka telanjur asing. Keduanya kalah dengan ego masing-masing.

 

“Aku tidak pernah tahu sudut pandang Raka tentang ini, namun yang aku tahu dia memang sudah tidak ingin aku menampakkan diri di depannya. Mungkin baginya kenangan yang kami bangun sudah hilang bak ditelan bumi. Padahal, batu yang kita injak dan jam dinding di kamarku masih mengenangnya, bahkan di setiap petikan detik. Mereka yang menyaksikan lahirnya lukisanku di larutnya malam. Padahal aku bukan seniman, aku hanya senang memasak, dia pun tahu itu.”

 

Arra tidak pernah sepercik pun terbesit rasa benci tentang Raka yang sudah menganggapnya hilang. Bahkan jika kehadirannya tidak disukai. Dan mungkin saja bagi Raka, lebih baik beranjak daripada harus berada didekatnya.

 

“Arra, diam diam Raka memperhatikanmu!”

 

Bukan, tidak ada seorang yang berkata seperti itu. Arra hanya tidak ingin mengenal harapan, walau sebenarnya ia memilikinya.

 

“Aku tidak diizinkan untuk berharap karena nanti aku kecewa. Namun semesta seperti memaksa untuk sedikit saja aku merasakannya. Sepertinya perasaan ini memang tidak diizinkan untuk lenyap. Bukan imajinasi, tapi aku betul-betul merasa bahwa Raka tidak sepenuhnya menganggapku hilang. Aku senang jika ia peduli walau hanya dalam kesunyian dirinya. Padahal, jika orang tahu pun itu bukan tindakan kriminal yang harus ditutup rapat‐rapat. Ia penuh teka-teki, tidak ada yang tahu.”

 

Tulisan ini dibuat karena Arra tidak mampu mengungkapkan secara langsung, sepenuhnya khawatir jika Raka tidak nyaman atas tindakannya. Ribuan tanda tanya berbaris di kepala. Hanya mampu berharap tulisan ini sampai kepada pemilik sebenarnya.

 

“Menjaga dan melindunginya lewat tangan tuhan adalah sebaik-baik keputusan yang bisa dilakukan. Karena aku paham, ia tidak ingin aku ada. Semoga tuhan selalu menghangatkan jiwa dan ragamu.”

 

Baginya, Raka adalah wujud nyata dari keindahan karya dari sang MahaKarya.

 

And what kind of love is more beautiful than praying for someone?

 

Sejak menyaksikan Raka beranjak setelah Arra hadir yang tepat terjadi di depan mata, Arra dengan berat hati benar-benar akan membentangkan jarak lebih jauh lagi. Bukan karena perasaan itu dibuang, tetapi karena ia sayang. Sebab mana mungkin ia membiarkan yang terkasih merasa gelisah.

 

Namun tetap saja Arra menginginkan Raka sendiri lah yang mampu mengubah jarak sejauh langit dan bumi ini menjadi sedekat nadi, yang setiap denyutnya terasa hangat. Walau ia sadar, langit dan bumi pun sebenarnya saling sayang meski mereka jauh.

 

“Kami berpapasan tanpa sengaja, saling menyusuri setiap bagian wajah. Tidak lagi bisa pura-pura tidak saling melihat, karena seakan semesta berbisik; "kalian bertemu" tepat di telingaku.”

 

Arra masih enggan berani menyapa, padahal di detik yang sama hatinya bergemuruh menghardik pikiran yang terlalu ambisius memenangkan egonya.

 

“Mengapa tidak dia duluan yang menyapaku? Padahal aku saja menyapanya, dalam hati.”

 

Entah itu juga terlintas di pikiran Raka atau tidak, hanya tuhan yang tahu.

Karena sungguh, seluruh bagian di dirinya adalah milik-Nya. Arra selalu percaya itu, ia tidak pernah merasa memiliki Raka. Karena memang belum pernah, memulai saja juga belum.

 

“Aku takkan bisa menghapus dirimu, meski ku lihat kini kau di seberang sana” —Menjaga Hati by Yovie & Nuno

______________________________________

 

" Dia bahagia, aku pun begitu. "

Itu lah kalimat yang selalu dipegang teguh.

 

Andai saja Raka memang bukan untuk Arra, mengapa tuhan masih mengizinkan Raka untuk menjadi penghuni hatinya?

 

“Jiwaku mana mungkin sudi menaruh rasa benci terhadap Raka yang selalu

membuatku berdecak kagum. Atas segala rasa kecewa pun tidak pernah mampu mengalahkan sifat keras kepala dari perasaanku ini. Aneh, mengapa pikiran dan perasaan memiliki jalannya masing-masing? Mengapa tidak pernah selaras demi kedamaianku?”

 

Logika yang sepenuhnya sadar bahwa banyak yang lebih sempurna jika dibandingkan yang telah berlalu. Namun apa daya, perasaan memang wujud paling keras kepala. Ia paham betul apa yang diinginkan.

 

“Jika yang didoakan selama ini sudah hadir di depan mata, lalu buat apa berkelana kembali demi membela yang lebih sempurna?. Aku adalah si keras kepala yang paham betul apa yang aku inginkan. Kurasa teman-teman kesal terhadapku, karena masih saja kamu yang menjadi topik hangat di perbincangan kami, dan penjajah isi pikiranku.”

 

Hingga saat tulisan ini hadir, memori itu akan memiliki rumahnya sendiri. Masih terkenang walaupun rasa itu mungkin belum diizinkan untuk menang.

 

Tapi percayalah, Arra pun tidak tahu alasan dibalik perasaan megah yang dititipkan tuhan kepadanya. Arra tidak ingin khianat, ia amanah atas segala yang dititipkan.

 

“Seorang pernah berkata padaku, mungkin ini semua terjadi karena tuhan ingin menjaga kami berdua. Dan dialah maha tau segala-Nya.”

 

Mungkin kisah ini tidak seromantis dilan dan milea atau sejoli lain.
Aku pun bukan seorang gadis pujangga, aku gadis kecil!.

Kalian berdua abadi di sini, berkelana dan berlayarlah.
Sampai jumpa di takdir tuhan selanjutnya, tuhan akan selalu menyayangimu.

 

Jika saat ini belum ditakdirkan untuk bersama, mungkin di lain waktu.

Tugas kita hanya menunggu.



 

Pesan Arra untuknya;

“Lukisanku malam itu, akan menjadi milikmu selamanya.
Bunga tulip itu ingin selalu dijaga.”

 

Persembahan untuk 2023, segala baiknya silahkan disimpan.

2024 akan memeluk kalian dengan hangat, Raka dan Arra.

Baca selengkapnya »
Adha

Adha


Yang menakjubkan: Ibrahim bersedia sembelih anaknya. Yang mengharukan: Ismail ikhlas disembelih. Yang termanis: Tuhan akhirnya mencegah kekerasan.
Baca selengkapnya »
Dari yang Terluka: Cara Penulis Mengutarakan Cinta

Dari yang Terluka: Cara Penulis Mengutarakan Cinta

oleh: Fhirly Gelshi


Tulisan ini menjadi bukti bahwa dunia terus berjalan, hati dapat berubah, dan pertemuan di waktu yang salah benar-benar ada.


Jakarta, 20 Juni.


    Pada akhirnya, mereka adalah dua insan yang hanya mampu berteriak di pikiran masing-masing. Memikirkan suatu masalah dari siang hingga malam. Mempermasalahkan  yang akan jadi pemenang, meski mereka sadar bahwa mereka berdua sama-sama telah ‘kalah’ dalam permainan. Permainan yang melibatkan hati, rasa, dan perasaan. Logikanya, insan mana yang tidak jatuh cinta jika diperlakukan sedemikian rupa?


Membawa peran sang abu yang hilang, perlahan mengembalikan arah kehidupan, dan kemudian pergi tanpa alasan. Namanya Kaivan, hobinya membuat orang tertawa. Tingkahnya tengil, tetapi sangat sopan pada orang yang lebih tua. Dan dia Nay, mungkin salah satu perempuan yang bisa Kaivan percaya. Entah se-percaya apa, tetapi yang jelas, bukan Nay yang memulai untuk jatuh cinta.


Ia datang di saat Nay hendak memulihkan diri. Di sudut sana ia menjemput Nay tiap hari, memberinya perhatian penuh, bahkan setiap sudut kota sekarang memiliki ceritanya sendiri. Awalnya, Nay merespons dengan rasa benci. Ia tidak suka dengan Kaivan yang menyebalkan sana-sini. Namun benar kata orang-orang, “Jangan terlalu benci, nanti jadi cinta”. Dan hingga suatu hari, Nay sadar bahwa itu bukan sekedar kalimat meledek lagi. Itulah fakta yang sebenarnya terjadi. Kini, Nay benar-benar jatuh hati dan masuk dalam perangkap seorang Kaivan.


Naasnya, Kaivan bermain api, tatkala ia sedang berlari mencari jati diri. Ia lupa, bahwa Nay juga seorang diri di dunia ini. Ia lepaskan Nay begitu saja, di saat Nay sudah mulai menginginkannya juga. Kebisingan di kepala mereka memenuhi sunyinya ruangan yang ditempati. Penuh tanya, penuh elakan, penuh juga rasa khawatir akan takut kehilangan. Namun, di sisi yang lain, hati tidak bisa berbohong bahwa ia telah lelah menghadapi ‘cinta’ yang kian mendatangi. Ia butuh rehat, namun ia tak mampu bersanding dengan akal sehat. Hati akan selalu menjadi hati. Ia akan berjalan pada jalannya sendiri dan selalu berbeda pendapat dengan kejamnya logika ini.


Nay dan segala trauma dan pikiran berlebihannya, begitu juga dengan Kaivan yang masih belum sepenuhnya damai dengan masa lalunya. Keduanya sebenarnya sama saja, sama-sama belum matang dan damai untuk sekedar memulai. Jika dilanjutkan, mereka hanya akan saling menyakiti. Nay dengan segala pikirannya yang berlebihan. Lalu Kaivan dengan asumsi dan keraguan luar biasanya akan sebuah hubungan. Mereka hanya berakhir sebagai teman yang hanya mampu memandang. Bukan mereka yang biasanya, bukan lagi mereka yang pernah dengan canda dan tawa.

 

Mungkin gak sekarang

Tapi kalau nanti?

Hanya Tuhan yang tahu.

 

Teringat mereka pernah bernyanyi di tengah gerimis hujan. Di atas kuda besi, dengan udara sejuk nan asri. Mengelilingi Jakarta sambil bersenandung ria bahagia. Dengan keadaan sang hawa duduk di belakang menggunakan jaket milik sang adam untuk menutupi kepala. Sedangkan sang adam sendiri berusaha keras menutupi salah tingkahnya sendiri.

 

Bahkan setelah ini, Jakarta dan hujannya sudah menjadi saksi bahwa kita pernah bahagia di sini.

 

Mereka terpaksa ‘menyudahi’ sesuatu yang tidak pernah mereka mulai ini karena sebuah kesalahpahaman. Bukan salah mereka jika harus berpisah sekarang. Ini karena takdir memang berkehendak demikian. Takdir ingin mereka dewasa. Takdir ingin mengajarkan apa itu cinta, apa itu mengikhlaskan, dan apa itu pengorbanan yang sebenarnya.

 

“Yang terbaik datang setelah berpikir matang-matang, bukan sekedar ‘bersantap’ asal datang.”

-Hello (Again), Cello.

 

——

 

Tulisan ini dibuat bukan untuk mengenang, tulisan ini dibuat sebagai kisah yang akan terus berlanjut. Tulisan ini sebenarnya juga dibuat karena sang penulis ingin mengabadikan seseorang di dalamnya. Selain dibuat untuk seseorang, tulisan ini juga diperuntukkan bagi mereka yang merasa telah bertemu dengan orang yang tepat, tetapi di waktu yang salah.

 

Jika boleh jujur, sang penulis sempat bingung dengan perasaannya sendiri sampai berlari untuk menulis di sini. Ditemani lagu yang kian menghantui pikiran, Jodoh Pasti Bertemu milik Afgan. Ia mampu merangkai kata demi kata yang mendeskripsikan ‘luka’ yang ia rasa.


Penulis menyebut penggores luka-nya itu dengan sebutan ‘Si Tampan yang Bijaksana’. Ia kuat, memiliki rasa percaya diri tinggi, serta berwibawa. Namun, sebenarnya ia juga orang yang sangat rapuh dan pelik. Ia adalah pemilik hati yang mudah terbolak-balik.


Secepat itu perubahan yang diberikan olehnya, sampai sang penulis tak sadar bahwa ia sedang menahan raga yang hendak melangkah jauh pergi dari hidupnya. Ia tak sadar bahwa rasa leganya itu hanya sementara. Karena sejatinya, tidak ada orang yang benar-benar akan menetap di dunia, people come and people go itu nyata.


Sang penulis tidak ingin kehilangan yang ini. Penulis masih ingin mengukir cerita yang lebih panjang dengannya meski sebatas teman yang hanya bisa menyapa di koridor kelas sehari-hari.


Tulisan ini dipenuhi dengan kekhawatiran, penyesalan, pengorbanan, dan keikhlasan. Waktunya begitu singkat, tapi yang diberikan terlanjur melekat. Perubahan dan rasa hampa akan menjadi teman baik bagi mereka yang selalu merasa gagal. Semua terasa begitu cepat, tak perlu menyalahkan waktu karena terlalu singkat. Perasaan, hati, dan pikiran tidak mampu dikendalikan oleh akal sehat. Biarkan waktu yang menjawab kala keduanya sedang rehat.

 

Damaikan hati, damaikan pikiran, suatu saat kita akan bertemu lagi di kala waktu yang sudah tepat.


Pada akhirnya, orang dari masa lalu bukan hanya soal menjadi pemenang. Orang dari masa lalu kadang tak sadar kita jadikan sebagai acuan untuk masa yang akan datang. Padahal, tentu tidak ada insan yang sama di dunia ini. Maka, jangan pernah menjadikan masa lalumu sebagai ‘pembanding’ bagi orang yang bersamamu—atau akan bersamamu sekarang. Seperti kata mereka, “Jangan baca buku yang baru, kalau yang lama saja belum selesai”. Selesaikan terlebih dahulu masa lalumu. Ikhlaskan dulu, berdamai sepenuhnya dulu, dan yakinkan dirimu terlebih dahulu. Dengan meyakini diri bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, di situlah kamu akan menemukan titik baru untuk berdamai. Maka biarlah waktu yang menemukan titik perdamaian itu.


Masih banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab dari kepala yang berisik ini. Ada kalanya hati terasa sakit saat menyadari bahwa ia yang biasa memberi tawa tidak akan sama lagi. Ada pula rasa tak terima saat mengingat kalimat-kalimat keramat yang juga berhasil menggores hati. Sesakit itukah mencintai?


“Seandainya waktu itu lebih hati-hati, apa semua ini gak akan terjadi?” pertanyaan yang enggan untuk ditanya, tapi selalu terlintas tanpa dosa di kepala. Pertanyaan penuh sesal dari orang yang juga tidak bersalah, karena pada akhirnya kesalahpahaman-lah yang akan menjadi pemenangnya.

 

Untuk yang tercinta…

Maaf dari sang penulis — yang masih jauh dari kata sempurna. Maaf jika sering buat susah, maaf sering marah-marah, dan maaf juga karena tak sengaja mengembalikan luka lama. Damai selalu, semoga bahagia, dan semoga lekas pulih dari segala macam trauma.

 

——

 

Apapun yang terjadi, semoga Tuhan segera memberikan jawaban atas pertanyaan yang kita miliki.


 

Baca selengkapnya »
Fight it!

Fight it!

 

                                                  sumber: pinterest


oleh: Aliya Khairunisa


    “Oke, dua jam lagi zoomnya selesai, semangat!” Ucapku menyemangati diri sendiri. Baru hari senin tapi sudah tidak sabar untuk bertemu hari sabtu. Walaupun pelajaran hari ini lumayan santai, tapi tetap saja berat. “Aku masuk ke sekolah ini juga merupakan hasil usahaku, jadi, aku tidak bisa menyia-nyiakannya begitu saja. Mumpung masih online, aku harus menggunakan waktu dengan baik jangan sampai kalah dengan suasana”. Itu kataku setiap saat. Namun, itu hanya bertahan di dua minggu pertama sekolah sampai akhirnya aku menjadi tidak teratur.

 

“Ayo anak-anak dibuka kameranya ya… Ibu akan absen terlebih dahulu,” Ucap Guru itu dari zoom. Satu-persatu wajah para peserta didik mulai terlihat di layar. Guru itu mulai mengabsen muridnya satu-satu. “Jimin, tugas kamu yang terakhir belum ya, nak? Ayo cepat dikerjakan, sudah berapa minggu ini?!” Tegas guru itu ke salah satu peserta didik. “Iya bu, ini masih proses, nanti sore akan saya kumpulkan.” Jawab Jimin. “Selanjutnya, Kai, kamu juga belum nih tugasnya… Kapan mau dikumpulin?” Tanya guru itu kepadaku. “Iya bu, sebentar lagi selesai.” Jawabku malu. “Oke, cepat ya, kalau tidak akan saya berikan nol.” Tegas bu guru.

Lagi-lagi aku lalai dengan tugasku, ini bukan guru pertama yang menanyakan hal itu kepadaku dalam sebulan ini. Tugas yang diberikan setiap harinya aku terus tunda sampai tanggunganku yang lain tidak dapat terselesaikan dengan cepat. Kalau begini caranya tugasku akan semakin menumpuk. Penilaian semester satu juga sebentar lagi dan parahnya aku belum memahami materi sepenuhnya di beberapa pelajaran. Apakah aku bisa berubah jika terus seperti ini?

 

Dua jam setelahnya, menunjukkan pukul 12 siang. “Materinya sampai situ dulu ya, anak-anak. Saya akan memberikan tugas terakhir sebelum penilaian akhir semester satu. Keterangannya sudah saya cantumkan di classroom dan batas pengumpulannya adalah minggu depan, jadi, saya harap kalian bisa memberikan hasil yang maksimal ya! Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan, saya akhiri dan selamat istirahat!” Jelasnya lalu meninggalkan zoom kelas.

This meeting has ended by the host. Aku langsung mengklik shut down dan menuju ruang makan untuk makan siang.

 

Di meja makan sudah ada tempe goreng dan sayur sop bikinan Ibuku. Sederhana tapi mewah. Biasanya saat makan siang kita memang tidak makan dengan anggota lengkap. Siang ini di meja makan hanya ada aku dan Ibuku, yang lain masih mengerjakan kesibukannya masing-masing. “Gimana kak? Ada tugas?” Tanya Ibuku. “Banyak.” Jawabku singkat. “Makan yang banyak ya, biar kuat!” Ucap Ibuku. “Iya…” Ibu sering menanyakan apakah tugasku banyak atau tidak, aku selalu memberikan jawaban yang sama seperti tadi karena memang tugasku menumpuk, tapi aku tidak berani memberi tahu seberapa banyak tugas yang bahkan sudah menjadi missing.

 

Tiga puluh menit setelahnya, aku kembali ke kamarku untuk sholat dzuhur dan segera kembali mengerjakan tugas yang belum terselesaikan. Aku mengganti suasana belajar dengan duduk di lantai dan meja lipat melainkan menggunakan meja belajarku yang sudah kududuki selama kurang lebih lima setengah jam. Di atas kasurku ada Moon, Kucingku, yang tidur kekenyangan. “Kamu enak ya, moon, kerjaannya tidur, bangun, dan makan saja…” Ucapku iri dengan Moon yang bisa santai-santai. Aku menatap kucingku itu beberapa saat dan kembali lagi menatap layar laptop. “Oke, mari kita mulai. Step by step.”

 

Belum juga lima belas menit, aku sudah kembali dengan ponsel genggamku teralihkan oleh telefon dari temanku. “Kai! lo udah ngerjain tugas yang tadi dikasih sama si ibu?” Tanya temanku-Ravi. “Tugas tambahan yang kemarin aja belum selesai, Rav.” Jawabku dengan kesal. “Oh iya ya… Mau dibantu gak tugas yang kemarin?” Tawarnya. “Gue bingung nyari topik aja sih...” Jawabku. “Hmm… lo kan suka nonton film tuh, bikin aja ulasan tentang film yang lo suka dan anggap bermoral! ” Ujar Ravi. “Oh iya! Boleh tuh, kok gue gak kepikiran ya… oke deh makasih Rav!” “Iya deh... Cepet kelarin dah tuh tugas, kasian nanti si ibu mau ngasih nilai kebingungan, Hahaha…”  Tawa Ravi. Aku ikut tertawa karena kalimatnya. “Semangat ngerjain tugasnya deh ya, lo pasti bisa!” Sorak Ravi sebelum menutup telepon. “Iya! Lo juga semangat!” Sorakku balik.

 

Aku kembali fokus ke laptop dengan halaman tugasku itu setelah mendapat saran dari Ravi. Berkatnya, aku berhasil menyelesaikan dua paragraf, tapi masih terhitung 250 kata. Aku harus berada di 1,000 kata untuk mencapai kriteria minimal. Padahal, Ini bukan pertama kalinya aku menulis tapi kenapa berat sekali. Banyak kalimat-kalimat yang sudah diubah entah berapa kali. Aku kira ini akan berjalan cepat karena film yang aku ulas ini terekam dan tergambar sangat jelas di kepalaku, tapi kenapa tidak bisa kujelaskan dalam bentuk tulisan dengan baik? Kepalaku rasanya ingin pecah! Aku jadi tahu kenapa ada kalimat mengatakan bahwa dalam mengerjakan sesuatu itu harus konsisten.

 

“Arghhh! Padahal, tugas yang lain juga belum selesai!? Kenapa menulis begini aja belum selesai dari tadi!?” Kesalku memukul meja. Pikiranku sudah terkuras banyak, mungkin jika aku istirahat lima menit dapat membantu. Iya lima menit, ditambah lima menit lainnya. Selama istirahat itu aku malah asyik melanjutkan episode kemarin yang tersisa tiga puluh menit lagi. Aku bersantai-santai seakan aku tidak memiliki beban lain. Dan, yang terjadi adalah waktu yang aku gunakan untuk istirahat sudah bukan lima menit lagi.

 

Tidak terasa sudah pukul 3 sore, azan ashar terdengar mengumandang. Aku menghentikan video yang kutonton dan segera mengambil wudhu untuk bersiap salat. Lagi-lagi aku masih berpikir, untuk menunda tugasku. Begitu terus sampai aku memutuskan untuk berolahraga terlebih dahulu. Aku mencoba menjernihkan kepalaku sejenak dengan jalan sore sambil mendengarkan musik yang diputar secara acak. Namun, kepalaku tetap penuh dengan kepanikan karena tugas belum selesai. Di lagu kedua yang terputar, rasanya aku pernah mendengarnya sampai terdengar lirik “I don’t know you anymore” aku jadi ingat ini adalah lagu Eric Nam yang baru keluar! Lagu ini membuatku mencoba mengerti isinya. Dari Chorus, I can't tell you where we went wrong. Maybe it's not anyone's fault. All I know is I don't know you anymore. Lalu Post-Chorus, We've gone too far, we fell too hard. Dan Verse ke-2 You can't burn a bridge and then act like it's not a big deal (Big deal, yeah-yeah). Kalimat-kalimat yang kuperhatikan itu membuat Langkahku terhenti. Rasanya seperti ada yang menamparku. Harusnya ini bertujuan untuk orang-orang disana yang merasa kehilangan pasangannya! Masa aku bisa merasa relate? Aku mencoba berpikir pelan. Apa aku kehilangan diriku sendiri? Apa aku bukan Kai yang selalu ingin lebih dulu dari yang lain? Pikiran itu semakin dalam dan air mata keluar dari mataku. Aku merasa kesal dengan diriku yang menganggap enteng tanggung jawabku sekarang karena aku tahu aku bisa lebih dari ini. “Ini memalukan! Aku harus pulang sekarang!” kesalku. Air mata itu masih keluar sedikit. Aku mengusap air mata itu dan putar balik menuju rumah.

 

Sebelum membuka pagar, aku menenangkan diriku dulu supaya tidak ada yang bertanya kenapa ada air yang keluar dari mata anak laki-laki ini. Tapi perasaanku sekarang ini benar-benar tidak bisa menerima diriku saat ini. Setelah mencuci tangan, aku langsung menuju kamarku dan duduk didepan laptop lalu mulai merangkai kalimatku. Tentu saja menulis dengan perasaan seperti ini tidak lebih mudah dari sebelumnya. Aku tetap berusaha berpikir keras sampai akhirnya aku menyelesaikan tulisanku sampai akhir. Sebelum dikirimnya tulisanku ini, aku melakukan pengecekan apakah ada kesalahan dalam penulisan. Aku mulai kembali ke halaman pertama dan membaca tulisanku dari awal. Selama membaca, tanganku bergerak sendiri membenarkan kalimat yang kurang pas.“Tidak buruk juga, aku kurang puas sih… tapi, mending selesai saja deh daripada pusing membuatnya sempurna.” Angguk kepalaku menilai tulisanku sendiri.

 

Sinar matahari yang masuk ke kamarku mulai berkurang. Ternyata sekarang sudah pukul 6 sore. Aku tidak sadar karena fokus mengerjakan tugasku. Dari luar terdengar ada yang memanggilku untuk makan malam. Aku hanya menjawab “Iya nanti” lalu diam dan menyelesaikan tugas yang 96% selesai. “Yeay! Tinggal kasih nama dan kirim filenya nih... “ Ucapku tak sabar mengirim tugas ini. Aku terus menggetarkan kaki ke lantai sambil membuka classroom. Akhirnya aku bisa mengklik turn in. Ini sebuah kepuasan yang juga melegakan. “Assalamualaikum bu, saya Kai dari kelas 10 B sudah mengumpulkan tugas tambahan dari ibu. Mohon maaf atas keterlambatannya ya bu, terima kasih.” Tulisku dalam pesan ke Bu guru. “Waalaikumsalam Kai, iya terima kasih sudah mengumpulkan ya nak…. Lain kali kalau ada kendala bisa dibicarakan saja, tidak usah takut ya nak,” Balas Bu guru dengan cepat. “Iya baik bu, terima kasih sekali lagi ya bu.” Balas Ku menutup percakapan.

 

Setelah sekian malam, tugas yang tertunda satu minggu berhasil ku selesaikan. Walaupun masih banyak yang lain, tapi satu-persatu terkumpulkan. “Nak, ayo makan udah dipanggil dari tadi,” Ucap Ibu dari balik pintu. “Eh iya bu,ini  baru selesai ngerjain tugas.” Jawabku tersenyum riang. “Masa sampai belum mandi gini, yaudah makan dulu sana sebelum dingin.” Ujar ibu mengomel. “Iya hehehe” Jawabku terkekeh. Di ambang pintu, Ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya yang satu ini.

 

Sampai di ruang makan, mata dan mulutku terbuka lebar melihat apa yang ada di meja makan. Ternyata sudah ada dua box pizza dengan topping kesukaanku. “Kamu pasti lelah ya banyak tugas. Ibu tahu kamu masih banyak yang belum terselesaikan. Makanya Ibu beli pizza biar kamu tetap happy.” Ucap ibu yang ada di belakangku. Aku memutarkan badanku dan memeluk ibuku sambil mengucapkan terima kasih. Jarang sekali kita memesan pizza untuk makan biasa tanpa ketentuan special. Maka dari itu aku merasa bersyukur masih ada orang yang mendukungku. Di awal mungkin terasa berat, tapi saat kamu mulai melakukannya dan menjalankannya, pasti akan terasa lebih mudah setelahnya. Dan ingatlah bahwa di sekitarmu pasti banyak yang mendukungmu, jadi kamu tidak sendirian. Semuanya juga sedang berusaha, jadi mari kita berjuang bersama untuk mencapai tujuan yang kita mau!

Baca selengkapnya »