Oleh: Dian Nurma Andriani
Hallo semua, Aku Dian dari kelas XI MIPA 1. Jadi, di kesempatan kali ini, aku mau merekomendasikan film yang bagus banget dan keren ke kalian, nih. Salah satu film yang buat aku terharu dan terinspirasi. Film ini diambil dari kisah nyata seorang peselancar profesional dari Hawaii yang berjudul “Soul Surfer.” Ia bernama Bethany Hamilton.
Dia lahir di Hawaii, yang memiliki dua orang kakak laki-laki
yang membuat dia menjadi orang yang kompetitif. Bethany juga memiliki sahabat
yang bernama Alana. Mereka selalu berselancar bersama. Ketika Bethany melakukan
selancar pertamanya, ia menyadari bahwa dia ingin menjadi peselancar
profesional. Film ini dimulai dengan kompetisi Bethany.
Saat
melakukan kompetisi, pada babak pertama, gelombang laut yang bagus didapatkan
oleh lawan bethany yaitu Malina. Babak kedua, bethany pantang menyerah
mendapatkan gelombang yang bagus. Akhirnya, dia mendapatkan gelombang yang
indah dan mendapatkan nilai tertinggi pada kompetisi hari itu. Bethany menjadi
juara 1, Malina juara 2, dan Alana menjadi juara 3. Setelah penerimaan piala,
mereka mendapat sponsor oleh salah satu brand
terkenal yaitu Rip Curl.
Setelah beberapa hari selesai kompetisi, Bethany dan keluarga Alana pergi ke pantai utara di Hawaii. Mereka menikmati gelombang di pantai itu. Ketika istirahat sebentar dan sambil mengobrol di laut, tiba-tiba ada seekor hiu yang menyerang Bethany. Alana langsung teriak dan memanggil ayah dan kakaknya. Semua panik saat itu dan Ayah Alana meminta Kakak Alana untuk menelepon rumah sakit dan menelepon Ibu Bethany. Setelah itu, mereka langsung ke daratan dan menuju ke rumah sakit dengan ambulans.
Saat Bethany pergi ke pantai, ayahnya sedang
melakukan operasi untuk lututnya. Ketika dokter ingin memulai operasi, suster
masuk dan memberitahu bahwa ada anak perempuan yang terkena serangan hiu di
pantai utara. Saat itu, ayah Bethany langsung panik dan ingin berdiri untuk
melihat bethany. Semua keluarga bethany terkejut dan selalu berdoa agar Tuhan
melindungi Bethany selamat. Setelah siuman, bethany menyadari bahwa dia
kehilangan salah satu tangannya, dan dokter mengataka, bahwa kemungkinan bethany kembali melakukan
surfing sangat kecil.
Ketika
kembali ke rumah, semua orang memberikan kejutan dan sesampai di rumah, banyak
wartawan yang datang dan Bethany menghindari wartawan. Beberapa hari setelah
perban dibuka, Bethany mulai bertanya-tanya, kenapa Tuhan melakukan ini dengan
dia. Tapi, temannya di Gereja mengingatkan kita, bahwa memang hal buruk bisa
terjadi kepada kita kapan saja, tapi kita harus percaya bahwa hal baik akan
muncul dari situ.
Setelah
tangannya membaik, Bethany coba kembali melakukan surfing lagi bersama
keluarganya dan keluarga Alana. Bethany berkali-kali gagal dan berkali-kali
mencoba. Dia terus terjatuh ketika ingin berdiri di papan, tetapi setelah mencoba
berkali-kali, akhirnya Bethany berhasil berselancar dengan baik dan dia
berharap untuk tetap ikut kompetisi surfing
mendekat. Bethany terus berlatih dengan ayah dan kakak-kakaknya. Ia berlatih
dari papan yang besar hingga papan standar perlombaan regional hawaii. Pada
hari-H kompetisi, Bethany gagal melakukan surfing. Ia berkali-kali terbawa arus
ombak yang sangat besar sehingga tidak bisa menyeimbangakan dirinya. Sedangkan
Malina, lawan Bethany, mendapatkan score
tertinggi dalam kompetisi.
Karena
kekalahannya di kompetisi Regional Hawaii itu, Bethany mulai menyerah untuk
melanjutkan surfing dan memberikan
papan surfingnya kepada 3 anak yang mendatanginya untuk meminta tanda
tangannya.
Setelah
itu, Bethany kembali bertanya-tanya, kenapa hal itu terjadi kepadanya. Dia
tidak tahu akan berbuat apa jika tidak melakukan surfing. Keesokan harinya,
Bethany berpikir ikut kegiatan Gerejanya untuk membantu masyarakat Thailand
yang sebelumnya mengalami Tsunami. Saat membantu korban Tsunami, Bethany
bertemu dengan anak kecil yang malang. Lalu, Bethany mengajaknya untuk main di
pantai. Tetapi, anak itu masih takut untuk masuk ke air. Untuk mengajak anak
itu bermain, Bethany mengajarkan anak itu surfing. Dan, semua orang melihat
Bethany mengajarkan anak itu, sehingga anak-anak tertarik untuk bermain di
pantai.
Sekembalinya
dari Thailand, setelah sampai rumahnya, banyak sekali surat dari penggemar
Bethany. Bethany membaca surat-surat itu yang berisi bahwa banyak anak-anak
yang terinspirasi olehnya, walaupun hanya memiliki satu tangan. Ketika membaca
surat itu, semangat Bethany kembali. Ia langsung meminta ayahnya untuk
membantunya kembali surfing dan mencari cara agar Bethany tidak terjatuh dari
papan saat ingin berdiri di air. Lalu, ayahnya langsung menunjukkan papan
khusus dibuatnya untuk Bethany, sehingga dia bisa kembali surfing dengan baik.
Bethany pun kembali ke air dan mulai latihan lagi dengan bantuan semua
keluarganya dan Alana.
Bethany
akhirnya mengikuti kompetisi lagi. Ia berhasil berselancar dengan indah.
Walaupun mendapatkan posisi kelima, ia tetap bersyukur karena bisa melakukan
surfing yang indah di akhir kompetisi. Dan, sekarang Bethany dan Alana menjadi
salah satu peselancar profesional.
Dari film ini, banyak banget pelajaran yang dapat kita ambil. Pertama, Bethany yang hanya memiliki satu tangan, dia tetap semangat untuk surfing. Walaupun pertama-tama dia mulai menyerah, tapi dengan satu peristiwa yang membuat orang lain bahagia, itu dapat membuatnya kembali semangat untuk mencoba kembali. Selain itu, ada juga kasih sayang keluarga. Keluarga Bethany sangat mendukung dia, sangat membantu dan selalu memberikannya semangat untuk selalu mencoba walaupun gagal berkali-kali. Ketiga, Bethany dan semua keluarganya selalu berdoa kepada Tuhan agar selalu membantu mereka dari segala kesedihan. Ingatlah, bahwa dalam setiap hal buruk, apa pun itu, pasti selalu ada hal baik yang akan terjadi dari itu.
Ingatlah, akan selalu ada keajaiban yang Tuhan berikan kepada kita. Janganlah gampang menyerah, karena pasti akan ada jalan keluar dan keajaiban yang indah. Last but not least, persahabatan. Di film ini, Alana selalu mendampingi Bethany, kapan pun dan dalam masalah apa pun. Walaun ada sedikit pertengkaran, tetapi mereka selalu kembali bersama dan menyelesaikan masalah itu dengan baik. Alana selalu menemani Bethany ketika latihan untuk kompetisi maupun percobaan surfing pertama Bethany setelah peristiwa itu.
Kritik
untuk film ini, dari saya sendiri tidak ada karena saya sangat menyukai film
ini. Saat saya menonton film ini, perasaan sedih, terharu, bahagia, kaget,
semuanya ada, sehingga saya menikmati film ini dengan hati yang senang dan
membuat saya tersenyum sendiri.
Film
ini membuat saya lebih semangat lagi dalam melakukan aktivitas sehari-hari
saya. Dari sini, saya juga belajar bahwa saya harus memperjuangkan keinginan
saya. Tidak boleh patah semangat dan selalu ingat, bahwa Tuhan akan selalu
mendampingi kita di mana pun, kapan pun, dalam situasi apa pun.
Nah, biar lebih seru lagi, mending kalian nonton saja filmnya. Biar lebih berasa lagi, bagaimana cerita Bethany. Terima kasih semuanya, sudah membaca blog ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.